Rumah yang Bersalah
Oleh: Asrita Zahro
Kau harus tau benar dengan rapalan doa ini, agar kau tak
salah tangkap dengan penyelewengan sana-sini. Katanya rapalan doanya sangat
mengandung arti yang dalam, tapi tetap saja ada
yang mengira ini hanya tiruan saja. Memang kebanyakan orang masih selalu saja
menganggap ini hanya ikut-ikutan. Dan sampai sekarang masih dalam penguatan
pembenaran.
Konon tradisi ini dulunya
hanya pemujaan sesembahan terhadap roh nenek moyang, yang dikasih kemenyan agar
tercium bau harum. Sambil mereka merapalkan doa yang diyakini. Namun para ulama
zaman dulu tak mengambil pemujaan, sudah diselaraskan dengan pembacaan ayat
al-Qur'an: tahlil dan doa.
Tapi sampai sekarang ini masih
selalunya saja ada orang yang tak percaya bahkan meghiraukan ini katanya angin
lalu, masih membekas tak ada penyelarasan. Turun temurun ya turun temurun.
Katanya.
***
Ada warga di kampungnya yang
masih percaya tradisi leluhurnya, satu hari kematiannya orang-orang ikut hanyut
dalam tradisi ini. Namun, sampai menginjak tujuh hari kematiannya tak ada
rapalan doa-doa yang menghampiri dan hidangan yang tersaji.
Orang-orang selalu mencibirnya
dengan sangat kental, seakan kematiannya begitu salah. Dibicarakannya sambil berjalan di depan rumahnya, dengan menunjuk-nunjuk,
seakan-akan rumah tua yang benar-benar bersalah. Rumah sepetak yang sudah
reot, banyak lumut di temboknya yang terlihat batu bata ditumbuhi rumput ataupun
hitam karena terkena kebulan asap bakaran daun kering. Atapnya yang terlihat
warna langit. Kalau malam menjelang, dia menggigil tak ada selembar kain yang
menutupi tubuhnya, yang ada hanya baju lusuh yang dia pakai. Tidurnya tak
beralasan bantal, hanya sekedar untuk menyanggah lehernya.
Memang barang-barang yang ala
kadarnya yang dulunya ada, untuk menebus obat istrinya. Namun sayang, semakin
hari istrinya semakin tidak berdaya, dan
takdir harus bilang apa lagi untuk memelasinya, akhirnya ajal menjemputnya.
***
Tapi orang kampungnya selalu
saja mencibirnya tak kunjung selesai. Pada waktu kematiannya, pada hari pertama
Sutinah, orang-orang datang berbondong-bondong untuk merapalkan
doa dan wujud belasungkawa, namun hari esoknya tak ada lagi kabar hanya sekedar
untuk menengok Sarimin yang sendirian, dan merapalkan doa untuk istrinya.
Sarimin tidak bisa memberi
kenyamanan ataupun hidangan yang harus disajikan. Dia hanya bisa menghela napas panjang, yang
kian napasnya tersendat karena harus membersihkan daun kering yang selalu
berguguran di depan gubugnya. Dia punguti satu-satu
daunnya. Lalu sudah terkumpul semua, dia bakar sampai kukusnya mengepul: putih
pekat. Ini dilakukan hampir ketika sore menjelang. Memang semenjak
kepergian istrinya, daun yang lebat cepat sekali mengering, tak ada air dari
langit.
***
Tak ada suguhan: daging ayam kampung, kerupuk merah, tempe kering, sayur mi, yang ada hanya nasi. Itupun dia hanya memiliki persediaan beras satu kandi, yang dia dapat dari sisa uang menebus obat istrinya. Makanan
itu adalah bentuk tradisi turun temurun di kampungnya, tapi mereka tak tahu
benar, arti sebenarnya. Yang mereka tahu hanya dia datang hanya sebatas
merapalkan doa dan selalunya saja memakan hidangan yang tersaji. Untuk makanan
kesehariannya pun sangat sulit, dia tidak bisa menyuguhi dengan aturan yang
sudah turun temurun. Orang-orang terlalu menyempitkan dirinya, tak ada bantuan
sedikit pun.
***
Di halamannya Sarimin masih
selalunya saja memunguti daun, Sarimin yang sudah tua renta ini harus
menanggung beban sendirian. Sarimin seumur hidupnya menikah dengan Sutinah
tidak dikasih anak oleh sang Maha Khalik. Dia hanya bisa pasrah menerima
penderitaannya sampai ditinggal istrinya kini.
"Hai kau orang tua, mana makanan yang harus kau
hidangkan. Kau tak ingin istrimu disiksa menangis kesakitan."
Cibiran itu selalunya saja
terdengar hampir setiap berjalan dihadapannya, sampai dia hafal benar
perkataannya. Rasa sakit seolah-olah sudah menghampirinya setiap saat, tak ada
sedikit nafas kebebasan. Tubuhnya yang kian kurus ini harus menanggung
penderitaan.
Sungguh keadaannya harus
begini, dia tetap saja memungut daun-daun yang berterbangan berserakan
kemana-mana.
***
Hanya ruang kosong yang masih
dibentangkan karpet warna merah tua. Kursi-kursi tua disingkirkan ke belakang
rumah. Tak ada kenangan yang terpasang, hanya tembok yang sudah lusuh mengering
berdebu.
Di gubug ini dia hanya
merapalkan doa sendirian, dia sangat khusyuk sekali dan begitu khidmat
membacakan ayatnya yang begitu lirih, sampai-sampai tak mau ada makhluk sekecil
pun tahu. Dia tak ingin mengira semesta tahu, dia sangat malu bila semesta
tahu, dia tak bisa suguhkan sedikit pun imbalan untuk ucapan terimakasih.
Ayat demi ayat dia baca:
memohon diterbangkan kepada istrinya, agar dia tenang di alamnya. Mungkin dia
sangat mengerti benar penderitaannya, dia sudah tak mau mengharapkan doanya
dibacakan orang banyak.