Minggu, 26 November 2017

Cerpen_Rumah yang Bersalah_Asrita Zahro



Rumah yang Bersalah
Oleh: Asrita Zahro

          Kau harus tau benar dengan rapalan doa ini, agar kau tak salah tangkap dengan penyelewengan sana-sini. Katanya rapalan doanya sangat mengandung arti yang dalam, tapi tetap saja ada yang mengira ini hanya tiruan saja. Memang kebanyakan orang masih selalu saja menganggap ini hanya ikut-ikutan. Dan sampai sekarang masih dalam penguatan pembenaran.
Konon tradisi ini dulunya hanya pemujaan sesembahan terhadap roh nenek moyang, yang dikasih kemenyan agar tercium bau harum. Sambil mereka merapalkan doa yang diyakini. Namun para ulama zaman dulu tak mengambil pemujaan, sudah diselaraskan dengan pembacaan ayat al-Qur'an: tahlil dan doa.
Tapi sampai sekarang ini masih selalunya saja ada orang yang tak percaya bahkan meghiraukan ini katanya angin lalu, masih membekas tak ada penyelarasan. Turun temurun ya turun temurun. Katanya.
***
Ada warga di kampungnya yang masih percaya tradisi leluhurnya, satu hari kematiannya orang-orang ikut hanyut dalam tradisi ini. Namun, sampai menginjak tujuh hari kematiannya tak ada rapalan doa-doa yang menghampiri dan hidangan yang tersaji.
Orang-orang selalu mencibirnya dengan sangat kental, seakan kematiannya begitu salah. Dibicarakannya sambil berjalan di depan rumahnya, dengan menunjuk-nunjuk, seakan-akan rumah tua yang benar-benar bersalah. Rumah sepetak yang sudah reot, banyak lumut di temboknya yang terlihat batu bata ditumbuhi rumput ataupun hitam karena terkena kebulan asap bakaran daun kering. Atapnya yang terlihat warna langit. Kalau malam menjelang, dia menggigil tak ada selembar kain yang menutupi tubuhnya, yang ada hanya baju lusuh yang dia pakai. Tidurnya tak beralasan bantal, hanya sekedar untuk menyanggah lehernya.
Memang barang-barang yang ala kadarnya yang dulunya ada, untuk menebus obat istrinya. Namun sayang, semakin hari istrinya semakin tidak berdaya, dan  takdir harus bilang apa lagi untuk memelasinya, akhirnya ajal menjemputnya.
***
Tapi orang kampungnya selalu saja mencibirnya tak kunjung selesai. Pada waktu kematiannya, pada hari pertama Sutinah, orang-orang datang berbondong-bondong untuk merapalkan doa dan wujud belasungkawa, namun hari esoknya tak ada lagi kabar hanya sekedar untuk menengok Sarimin yang sendirian, dan merapalkan doa untuk istrinya.
Sarimin tidak bisa memberi kenyamanan ataupun hidangan yang harus disajikan. Dia hanya bisa menghela napas panjang, yang kian napasnya tersendat karena harus membersihkan daun kering yang selalu berguguran di depan gubugnya. Dia punguti satu-satu daunnya. Lalu sudah terkumpul semua, dia bakar sampai kukusnya mengepul: putih pekat. Ini dilakukan hampir ketika sore menjelang. Memang semenjak kepergian istrinya, daun yang lebat cepat sekali mengering, tak ada air dari langit.
***
Tak ada suguhan: daging ayam kampung, kerupuk merah, tempe kering, sayur mi, yang ada hanya nasi. Itupun dia hanya memiliki persediaan beras satu kandi, yang dia dapat dari sisa uang menebus obat istrinya. Makanan itu adalah bentuk tradisi turun temurun di kampungnya, tapi mereka tak tahu benar, arti sebenarnya. Yang mereka tahu hanya dia datang hanya sebatas merapalkan doa dan selalunya saja memakan hidangan yang tersaji. Untuk makanan kesehariannya pun sangat sulit, dia tidak bisa menyuguhi dengan aturan yang sudah turun temurun. Orang-orang terlalu menyempitkan dirinya, tak ada bantuan sedikit pun.
***
Di halamannya Sarimin masih selalunya saja memunguti daun, Sarimin yang sudah tua renta ini harus menanggung beban sendirian. Sarimin seumur hidupnya menikah dengan Sutinah tidak dikasih anak oleh sang Maha Khalik. Dia hanya bisa pasrah menerima penderitaannya sampai ditinggal istrinya kini.
"Hai kau orang tua, mana makanan yang harus kau hidangkan. Kau tak ingin istrimu disiksa menangis kesakitan."
Cibiran itu selalunya saja terdengar hampir setiap berjalan dihadapannya, sampai dia hafal benar perkataannya. Rasa sakit seolah-olah sudah menghampirinya setiap saat, tak ada sedikit nafas kebebasan. Tubuhnya yang kian kurus ini harus menanggung penderitaan.
Sungguh keadaannya harus begini, dia tetap saja memungut daun-daun yang berterbangan berserakan kemana-mana.
***
Hanya ruang kosong yang masih dibentangkan karpet warna merah tua. Kursi-kursi tua disingkirkan ke belakang rumah. Tak ada kenangan yang terpasang, hanya tembok yang sudah lusuh mengering berdebu.
Di gubug ini dia hanya merapalkan doa sendirian, dia sangat khusyuk sekali dan begitu khidmat membacakan ayatnya yang begitu lirih, sampai-sampai tak mau ada makhluk sekecil pun tahu. Dia tak ingin mengira semesta tahu, dia sangat malu bila semesta tahu, dia tak bisa suguhkan sedikit pun imbalan untuk ucapan terimakasih.
Ayat demi ayat dia baca: memohon diterbangkan kepada istrinya, agar dia tenang di alamnya. Mungkin dia sangat mengerti benar penderitaannya, dia sudah tak mau mengharapkan doanya dibacakan orang banyak.

Cerpen : Desa yang terkutuk

Desa yang terkutuk Cerpen oleh: Asrita Zahro Mungkin, karena terletak di lereng gunung. Udara setiap pagi hari selalu mendinginkan. ...