Gagal jadi
Artis
Oleh: Asrita
Zahro
Bunga-bunganya selalu
tunduk lewat angin, dia menjatuhkan kepasrahan, dari satu kelopak gugur
akhirnya hilang dalam tangkai. Dan kupu-kupu hilang melihat tak ada santapan di
pagi hari. Kuhayati dengan seksama, begitu syahdunya angin menghembuskan,
dengan santai dia tak melihat wujud aslinya.
***
Pagi ini
kulihat mbok masih saja mengunyah campuran kinang: jambe, kapur, gambir, sirih.
Ini adalah kunyahan terakhir mbok Ijah. Sebelum habis simpanannya. Dikunyahnya sampai
benar-benar berair berwarna merah. Bau yang sangat menusuk, karena baru saja
aku bersalaman, kuciumkan tangannya yang sudah terlihat lapuk. Memang semenjak
ditinggal anaknya, mbok Ijah hidup sebatang kara, dia hanya bisa pasrah mengadu
kepada sang Khalik.
"Mbok dari
tadi belum selesai juga menguyahnya, sudahlah mbok, anak mbok tidak bakalan
pulang juga."
Sudah aku
katakan perkataan itu berulang kali, tapi mbok Ijah tetap saja menguyah. Dan
memandangku dengan tatapan yang sama. Tatapan yang agak mengkeruh warnanya,
mungkin karena penglihatan sudah rabun, ataupun juga karena selalunya saja
terkena debu daun kelapa.
Mbok Ijah
sangat khusyuk menyayat daun kelapa, untuk diambil lidinya saja. Sambil dia
pandangi layar tv berharap anaknya ada dalam acara tersebut. Anaknya dulu pergi
merantau ke kota pamit berkeinginan untuk menjadi artis. Katanya ia ingin
menjadi pemain sinetron memerankan tokoh utama. Alhasil mbok Ijah dengan susah
payah menjual buah jambe yang ada di depan rumah. Buah jambe terkumpul lima puluh
kilogram dan dijual dengan harga satu juta. Uang tersebut dibawakan semua pada
anaknya.
***
Ini adalah
pekerjaan keseharian mbok Ijah, hanya untuk menyambung hidup. Satu persatu dia
sayat, sampai tertumpuk lidi banyak. Hanya pohon kelapa satu-satunya yang ada
di depan rumah. Terkadang, karena sudah lelah, ia terkantuk, dan melenceng sayatan
ke tangannya, sesekali dia lap menggunakan baju bekas. Sampai-sampai lapnya
kini sudah berwarna merah pekat.
Aku hanya bisa
meratapi kesendirian mbok Ijah. Aku mencoba untuk membantu menyayat, tapi tidak
boleh juga. Dia ingin menyelesaikan pekerjaannya sendiri, katanya supaya
anaknya bangga mbok Ijah bisa melakukan pekerjaan semua dengan tangan sendiri.
Sesekali dia
bergumam.
"Anakku
sudah dua tahun ini aku menonton tv, tak ada satupun wajahmu."
Oh sungguh
malang benar, nasib mbok Ijah. Anaknya kini entah kemana. Mungkin tersesat tak
tau arah. Atau mungkin jadi pemain film luar negeri. Sempat mbok Ijah curhat
kepadaku, sebelum mbok Ijah jadi seorang penggumam kini. Satu hari kepergian
anaknya mbok Ijah cerita kepadaku. Katanya anaknya ingin menjadi artis bollywod.
Dia mengikuti casting di kota dengan membaca pamflet yang terpasang di
tembok warung dekat rumahnya. Dan aku hanya mengangguk-angguk tanda terfahum.
Anaknya baru lulusan SMA, dia menurutku tak tahu benar hidup di kota itu
seperti apa. Aku yang hanya menjadi seorang babu di kota, sudah paham benar
nasib di kota seperti apa ganasnya. Emmmmm, entahlah. Pikiranku tersentak
bersama suara batuknya si mbok.
"uhuk…
uhuk.."
"mbok
cukuplah, istirahat."
Mbok selalunya
saja menatapku dengan tatapan yang sama, dan tidak mengeluarkan sepatah kata
pun. Selalunya saja dia ganti-ganti channel tv miliknya. Seperti
permainan gimbod.
"Sudahlah
mbok, jangan memikirkan dia terus, liat wajah mbok yang sudah pucat."
***
Sepeninggal
anaknya, seperti biasa aku yang selalunya saja untuk menjajakan dagangan sapu
lidi. Memang aku yang harus bertanggungjawab merawat mbok. Ibuku menyuruhku
tinggal bersamanya. Karena keadaan sangat memprihatinkan.
Kususuri kampung
dengan sepeda butut milik mbok. Dagangan selalu saja terlahap habis, belum jauh
aku mengayuhnya.
Aku berhenti
disalah satu warung, untuk membeli minuman. Memang cuaca yang terik membuat
kerongkonganku terasa kering. Kupelototin benda yang berbentuk persegi itu.
Suaraku agak tersengal. Bulukudukku merinding.
"i-iiii-tuuuu anak mbok Ijah."
Kemudian terdengar suara menerobos, bagai anak panah yang melesat.
"Dia
menjadi tukang sapu kolam renang. Masuk tv karena mengikuti Ajang Nasib."
Oh pantas saja mbok
Ijah nggak pernah liat. Warung ini memiliki parabola. Semua channel tv
bisa masuk oleh jaringannya. Seketika aku langsung ambil sepeda. Dan bergegas
pergi.