Minggu, 28 Juli 2019

Cerpen : Gagal jadi Artis


Gagal jadi Artis
Oleh: Asrita Zahro

Bunga-bunganya selalu tunduk lewat angin, dia menjatuhkan kepasrahan, dari satu kelopak gugur akhirnya hilang dalam tangkai. Dan kupu-kupu hilang melihat tak ada santapan di pagi hari. Kuhayati dengan seksama, begitu syahdunya angin menghembuskan, dengan santai dia tak melihat wujud aslinya.

***

Pagi ini kulihat mbok masih saja mengunyah campuran kinang: jambe, kapur, gambir, sirih. Ini adalah kunyahan terakhir mbok Ijah. Sebelum habis simpanannya. Dikunyahnya sampai benar-benar berair berwarna merah. Bau yang sangat menusuk, karena baru saja aku bersalaman, kuciumkan tangannya yang sudah terlihat lapuk. Memang semenjak ditinggal anaknya, mbok Ijah hidup sebatang kara, dia hanya bisa pasrah mengadu kepada sang Khalik.

"Mbok dari tadi belum selesai juga menguyahnya, sudahlah mbok, anak mbok tidak bakalan pulang juga."

Sudah aku katakan perkataan itu berulang kali, tapi mbok Ijah tetap saja menguyah. Dan memandangku dengan tatapan yang sama. Tatapan yang agak mengkeruh warnanya, mungkin karena penglihatan sudah rabun, ataupun juga karena selalunya saja terkena debu daun kelapa.

Mbok Ijah sangat khusyuk menyayat daun kelapa, untuk diambil lidinya saja. Sambil dia pandangi layar tv berharap anaknya ada dalam acara tersebut. Anaknya dulu pergi merantau ke kota pamit berkeinginan untuk menjadi artis. Katanya ia ingin menjadi pemain sinetron memerankan tokoh utama. Alhasil mbok Ijah dengan susah payah menjual buah jambe yang ada di depan rumah. Buah jambe terkumpul lima puluh kilogram dan dijual dengan harga satu juta. Uang tersebut dibawakan semua pada anaknya.

***

Ini adalah pekerjaan keseharian mbok Ijah, hanya untuk menyambung hidup. Satu persatu dia sayat, sampai tertumpuk lidi banyak. Hanya pohon kelapa satu-satunya yang ada di depan rumah. Terkadang, karena sudah lelah, ia terkantuk, dan melenceng sayatan ke tangannya, sesekali dia lap menggunakan baju bekas. Sampai-sampai lapnya kini sudah berwarna merah pekat.

Aku hanya bisa meratapi kesendirian mbok Ijah. Aku mencoba untuk membantu menyayat, tapi tidak boleh juga. Dia ingin menyelesaikan pekerjaannya sendiri, katanya supaya anaknya bangga mbok Ijah bisa melakukan pekerjaan semua dengan tangan sendiri.

Sesekali dia bergumam.

"Anakku sudah dua tahun ini aku menonton tv, tak ada satupun wajahmu."

Oh sungguh malang benar, nasib mbok Ijah. Anaknya kini entah kemana. Mungkin tersesat tak tau arah. Atau mungkin jadi pemain film luar negeri. Sempat mbok Ijah curhat kepadaku, sebelum mbok Ijah jadi seorang penggumam kini. Satu hari kepergian anaknya mbok Ijah cerita kepadaku. Katanya anaknya ingin menjadi artis bollywod. Dia mengikuti casting di kota dengan membaca pamflet yang terpasang di tembok warung dekat rumahnya. Dan aku hanya mengangguk-angguk tanda terfahum. Anaknya baru lulusan SMA, dia menurutku tak tahu benar hidup di kota itu seperti apa. Aku yang hanya menjadi seorang babu di kota, sudah paham benar nasib di kota seperti apa ganasnya. Emmmmm, entahlah. Pikiranku tersentak bersama suara batuknya si mbok.

"uhuk… uhuk.."
"mbok cukuplah, istirahat."

Mbok selalunya saja menatapku dengan tatapan yang sama, dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Selalunya saja dia ganti-ganti channel tv miliknya. Seperti permainan gimbod.

"Sudahlah mbok, jangan memikirkan dia terus, liat wajah mbok yang sudah pucat."

***

Sepeninggal anaknya, seperti biasa aku yang selalunya saja untuk menjajakan dagangan sapu lidi. Memang aku yang harus bertanggungjawab merawat mbok. Ibuku menyuruhku tinggal bersamanya. Karena keadaan sangat memprihatinkan.

Kususuri kampung dengan sepeda butut milik mbok. Dagangan selalu saja terlahap habis, belum jauh aku mengayuhnya.

Aku berhenti disalah satu warung, untuk membeli minuman. Memang cuaca yang terik membuat kerongkonganku terasa kering. Kupelototin benda yang berbentuk persegi itu. Suaraku agak tersengal. Bulukudukku merinding.

"i-iiii-tuuuu anak mbok Ijah."

Kemudian terdengar suara menerobos, bagai anak panah yang melesat.

"Dia menjadi tukang sapu kolam renang. Masuk tv karena mengikuti Ajang Nasib."

Oh pantas saja mbok Ijah nggak pernah liat. Warung ini memiliki parabola. Semua channel tv bisa masuk oleh jaringannya. Seketika aku langsung ambil sepeda. Dan bergegas pergi.

Cerpen : Desa yang terkutuk

Desa yang terkutuk Cerpen oleh: Asrita Zahro Mungkin, karena terletak di lereng gunung. Udara setiap pagi hari selalu mendinginkan. ...