Desa
yang terkutuk
Cerpen
oleh: Asrita Zahro
Mungkin,
karena terletak di lereng gunung. Udara setiap pagi hari selalu mendinginkan.
Banyak pepohonan. Sesekali tercium bau yang anyir tersebab hujan yang mengendap.
Sebentar lagi warga desa akan menebang pohon pinus. Warga dusun lereng,
diam-diam suka menebang pohon pinus untuk dijual. Batang-batang dipotong dan
dihanyutkan ke sungai. Beberapa truk sudah menunggu untuk mengangkut ke kota.
Dengan
jenggot memanjang, Mbah Jaka memandang pohon pinus paling besar. "Aku
sudah memohon restu pada Ki Naramuya," menyuruh untuk menebang. Akhirnya
warga desa berbondong-bondong menebang.
***
Sepanjang
mata memandang takada satupun pohon yang menjulang tinggi. Di lereng pegunungan
itu sekarang tampak coklat. Tak ada kehijauan, dan tak ada pula suara-suara bersiul.
Pohon-pohon
bagi desa lereng telah berjasa besar. Untuk kehidupan anaknya untuk sekolah,
istri dan suaminya. Uang hasil penjualan kayu itu, dibagikanlah semua ke
warganya.
Lantas,
sebelumnya, mereka bergotong royong menebang pohon pinus. Semua warga diarahkan
oleh Mbah Jaka. Dialah orang yang mengatur pohon boleh ditebang atau tidak.
Semua tunduk pada dirinya. Dengan sigap semua laksanakan perintah. Termasuk aku yang tidak berani membantah
perkataannya sedikitpun. Sesekali aku terbata-bata ketika berbicara dengannya.
Teringat ketika aku sowan ke kediamannya karena ingin meminang anak
gadisnya. Suaraku sempat saja hilang, nyaring tak terdengar. Mungkin karena aku
sangat gugup, dan bibirku terasa berat untuk mengatakannya. Suaraku pertama tak
terdengar betul oleh Mbah Jaka. Kuulangi perkataanku sekali lagi. Dengan
menghirup nafas dalam-dalam, sampai-sampai terasa terisak di dada. Mungkin,
karena terlalu tegangnya. Kutak bisa menatap matanya yang tajam. Aku selalu
saja tertunduk.
Mbah
Jaka berdiri mondar-mandir dan melihat sesaji yang berada di pintu depan.
Dengan menghirup dupa yang wangi.
Memang
di desa lereng, sangat menentang keras, pemuda datang untuk bertamu. Toh, yang
hanya memiliki anak gadis saja. Itupun, ketika diperbolehkan anak gadisnya
dilarang untuk menemui. Setiap anak gadis hanya boleh berada di kamar. Apabila
ia mengangguk ketika seorang pemuda melamar, berarti ia siap untuk menikah.
Lantas
itu juga, Rumbaniyah tidak bisa untuk menemaniku. Rumbaniyah hanya bisa
mengintip di sela-sela jendela kamar, yang sangat persis menghadap ruang tamu.
Tapi, perkataanya tak terdengar begitu jelas, karena tersebab hujan yang belum
berhenti dari tadi malam.
Kedatanganku
kerumahnya memang baru kali ini. Karena aku baru saja menyelesaikan kuliah di kota.
Aku melihat Rumbaniyah ketika gerimis senja. Ia baru pulang dari kebun.
Tujuanku pulang sebenarnya untuk menghilangkan kejenuhan kerja. Tapi tanpa
sengaja bertemu dengannya.
"Dari
mana sore begini. Boleh aku bertanya."
Ia malah lari.
Aku bingung. Padahal, kau berteman sejak kecil. Semenjak ayahku merantau, kami
berpisah. Kalau aku kesini hanya untuk berjumpa dengan kakek dan nenek. Sudah
lama aku tak ke sini, karena mereka telah tiada
***
"Bagaimana
Mbah?" takada jawaban sama sekali. Ia masih saja asyik memutar-mutarkan
dupa. Kemudian, Ia melihat dengan seksama, jumlah bunga di sesaji itu.
Dilihatnya dengan takdim dan khusyu. Dimondar mandirkan, sampai-sampai di
julurkan bunga itu ke arah lampu yang menyala. Semenjak hujan, ruang tamunya
agak sedikit gelap. Mungkin, karena awan hitamnya berada persis di atas
kediamannya. Dihitungnya satu persatu bunga itu, dari perbatang sampai per
kelopak bunganya. Aku hanya bisa melihatnya, sampai aku terduduk terfahum di depannya.
Dalam hatiku, aku hanya bisa pasrah, mengadu kepada sang Maha Pencipta.
Aku
hanya bisa memandang jam itu, tanpa ada maaf sedikitpun. Sungguh kedaan ini
terlalu parah buatku, berbalik dari ujian kelulusan S1 sastra Indonesia. Dan
aku masih saja melihatnya Pak Jaka dengan keadaan mata yang sudah
remang-remang, dan sesekali melihat jam dinding.
"Kau
boleh saja meminang anak gadis ku, tapi ada satu permintaan?"
"Jumlah bunga di sesaji ini kurang satu. Bunga ini bunga yang
langka"
"Mungkin,
aku bisa mencari pak, nama bunga itu apa pak?"
"Kau
cari saja di sudut lereng pegunungan desa ini, Kantil biru"
"Baiklah
pak"
***
Segera
mungkin aku terbangun dari lamunanku, mungkin aku masih saja memikirkannya
kemanakah besok aku akan berjalan mencari. Sontak saja aku terkejut, ketika
tanganku berada persis dibawah gergaji yang akan menancap ke pohon. Seketika
itu, aku langsung gerak reflek mengalihkan tanganku ke tubuhku.
Hari
jumat. Aku harus mencari bunga kantil biru. Pagi-pagi sekali aku bergegas
mencari, selama ini yang ada kantil putih, memang bunga ini sangat langka untuk
ditemui. Tapi cintaku padanya melebihi segalanya. Perjalanan ku ditemani
rintikan hujan, yang tadi malam tak kunjung reda. Diiringi pula, dupa yang
sepanjang jalan tak henti-hentinya aku menghirup. Karenapintu tiap rumah,
terdapat dupa. Begitulah yang diyakini oleh orang-orang di desa lereng ini. Aku
sebenarnya tak mau melakukannya. Keterpaksaan karena cinta, maka kujalani saja
semua syarat itu. Tapi setelah menikah, aku berniat untuk meninggalkan desa
ini.
Kulanjutkan
kaki ini untuk mencari bunga.Artinya, bunga ini adalah syarat untuk
pernikahannya nanti, kalau semisal aku tak dapat menemukan bunga ini, retaklah
hubunganku. Dengan kelakuanku, menemukan bunga kantil biru, aku akan selalu
terkait dengan Rumbaniyah.
***
Tepat
hari ini juga semua persediaan sudah disiapkan oleh warganya, atas suruhan
Ayahku. Semua sudah tertata rapi. Tempat yang tampak coklat kini, dihias dengan
sedemikian rupa. Ditatanya dengan potongan kayu pinus itu, hingga terbentuk
tempat pernikahan. Memang Mbah Jaka masih menyimpan kayu pinus itu, untuk
persediaan pernikahannya nanti. Dengan diselimuti kain berwarna hijau memanjang
sampai melambai ke tanah, sehingga tertutuplah tempat ini. Dipasangkan lampu
yang paling terang, yang terpasang di langit-langit, membentuk bayangan kantil
biru. Kursi-kursi tamuberjejeran berhadapan dipisah menjadi dua sekat, dengan
dibungkus kain warna hijau pula. Dan sudah ditata pula tempat duduk untuk calon
mempelai laki-laki dan perempuan. Warnanya yang keemasan, terdapat ukiran
kantil biru, tepat di kaki kursinya. Tempat ini membuat, mata memadang terlihat
syahdu ketika menikmatinya.
Aku yang
sudah berdandan dengan sangat cantik sekali, dibantu perias yang sudah dipercayai
di desa lereng. Disapukanlah bedak di pipiku yang merah jambu kini, menjadi
olesan yang sangat rata, tetapi tidak menghilangkan warna pipiku yang aslinya.
Ditaruhnya, bulu mata, menjadikan mataku semakin menjadi tajam. Diikat rambutnya
yang sangat lurus memanjang dengan kantil biru sampai membentuk gelungan. Kemudian
ditaruh sanggulnya di gelungan itu. Setelah itu, aku mengenakan pakaian yang
sangat anggunberwarna keemasan, dan itu pakaian yang sangat sakral untuk
menikah, membelit di tubuhku. Dandanan terakhir di oleskannya lipstik tipis
warna merah jambu pula. Kecemasanku pada Zulfikar tak kunjung reda, Zulfikar
tak kelihatan batang hidungnya sekalipun. Padahal pakaiannya sudah dipersiapkan
di kamarku. Setelah Zulfikar pergi meninggalkannya.
Tapi
sekali lagi Zulfikar belum juga datang. Semua warga di desa itu sangat
mengkhawatirkan keadaan ini, karena hari semakin petang dan hujan tak henti-hentinya.
Termasuk aku ketar-ketir kesana kemari, mondar-mandir, keringat dinginpun
menetes. Menambah dinginnya suasana.
Mbah
Jaka dengan penampilannya yang selalu gagah dan bijaksana keluar dari pintu
rumah. semua mata tertuju padanya, dengan sikap pemberani layaknya sedang
memimpin desa. Dia keluar dengan membawa sesaji yang kurang satu kelopak kantil
biru itu. Dan itu pertanda upacara pernikahannya akan segera dimulai.
Ditaruhnya sesaji itu didepan tempat duduk putrinya.
Kemudian
Mbah Jaka hanya mengambil dupa. Dengan menari-nari seorang pemangku adat, dikibas-kibaskan
dupa itu ke udara, memutar-mutar di tengah-tengah mata saling memandang.
Memang
upacara adat ini dilakukan terlebih dahulu. Untuk memanggil roh nenek moyang
untuk menyaksikannya. Mereka percaya bahwa roh nenek moyang ikut mendoakan
pernikahannya. Bahwa pernikahannya akan berujung sampai akhir hayat.
Dengan
kelenggokan tubuh pemangku adat tersebut, suara kakinya pun terdengar
terseok-seok. Mbah Jaka menari dengan penuh rasa khusyuk dan khidmat.
Dilepaskan slendangnya satu persatu ke tanah. Untuk menyambut, bahwa sudah
datang roh nenek moyang.
Aku yang
pada waktu itu, sangat takjub melihat pertunjukan Ayahku. Dan masih saja
dibumbuhi rasa cemas, karena tak kunjung datang kekasihku.
Hujanpun
semakin deras saja, ditambah petir yang suaranya sangat keras sekali. Bergetar
di telingaku. Semua warga menjadi was-was. Kalau-kalau tempat ini akan ambruk
dan runtuh di telan hujan.
Tapi
aku mencoba untuk menenangkan diri, memohon pada Sang Maha Pencipta, kalau
keadaan akan baik-baik saja nantinya.
***
Aku masih
saja mencari kantil biru. Dengan langkah sigap dan pemberani aku melanjutkan
langkahnya. Ditanjaknya lereng gunung itu, sampai menemukan sungai. Dilewatinya
sungai itu, dengan aku menyelam, untuk kesebrang. Kulitku yang sudah melapuk,
dan keadaanku sudah compang-camping. Menambah kegelisahan hati, yang waktu
semakin berdetik, menunjukkan akan saatnya waktu pernikahan. Dengan langkah
tergopoh-gopoh aku belum juga menemukan bunga itu. Dibenakku mungkin kantil
biru sudah tidak ada.
Tubuhku
semakin memerah dan menggigil. Jalanannya semakin licin saja, karena di penuhi
lumut, dan hujan yang tak kunjung reda.
Arahku
semakin remang-remang, karena aku sudah merasa putus asa. Dan aku beristirahat
sejenak, duduk di bongkahan kayu. Sambil membayangkan wajah Rumbaniyah yang
mempunyai paras cantik bak bidadari datang dari langit tujuh. Ku menolehkan
penglihatanku ke arah semak-semak belukar itu, akhirnya kulihat satu kelopak
kantil biru. Seketika itu juga aku segera memetiknya. Dengan langsung tidak
basa-basi, aku segera berlari menuju pernikahanku.
Dengan
langkah pasti aku akan membawa bunga ini ke pangkuannya, dan mencium keningnya,
mungkin ciuman ini akan terasa nikmat saat aku bersanding dengannya.
Aku
bergegas, dengan membayangkan wajahnya, yang tidak sedikitpun hilang di
benakku.
Akhirnya
tepat petang menjelang, langkahku terhenti, oleh campur riuh keadaan. Semua
warga mati, pak Jaka pun demikian. Sontak itu juga aku langsung mencari
kekasihku. Aku tak menemukannya, aku seperti orang yang sedang melambung
kebahagiaan, langsung jatuh saja seenaknya, tanpa ada kata maaf sedikitpun.
*Cerpen ini
masuk dalam antologi (buku bersama) sebagai lomba cerpen terfavorit yang
diselenggarakan oleh Sabana Pustaka.