Jumat, 09 Agustus 2019

Cerpen : Desa yang terkutuk


Desa yang terkutuk
Cerpen oleh: Asrita Zahro

Mungkin, karena terletak di lereng gunung. Udara setiap pagi hari selalu mendinginkan. Banyak pepohonan. Sesekali tercium bau yang anyir tersebab hujan yang mengendap. Sebentar lagi warga desa akan menebang pohon pinus. Warga dusun lereng, diam-diam suka menebang pohon pinus untuk dijual. Batang-batang dipotong dan dihanyutkan ke sungai. Beberapa truk sudah menunggu untuk mengangkut ke kota.
Dengan jenggot memanjang, Mbah Jaka memandang pohon pinus paling besar. "Aku sudah memohon restu pada Ki Naramuya," menyuruh untuk menebang. Akhirnya warga desa berbondong-bondong menebang.
***
Sepanjang mata memandang takada satupun pohon yang menjulang tinggi. Di lereng pegunungan itu sekarang tampak coklat. Tak ada kehijauan, dan tak ada pula suara-suara  bersiul.
Pohon-pohon bagi desa lereng telah berjasa besar. Untuk kehidupan anaknya untuk sekolah, istri dan suaminya. Uang hasil penjualan kayu itu, dibagikanlah semua ke warganya.
Lantas, sebelumnya, mereka bergotong royong menebang pohon pinus. Semua warga diarahkan oleh Mbah Jaka. Dialah orang yang mengatur pohon boleh ditebang atau tidak. Semua tunduk pada dirinya. Dengan sigap semua laksanakan perintah.  Termasuk aku yang tidak berani membantah perkataannya sedikitpun. Sesekali aku terbata-bata ketika berbicara dengannya. Teringat ketika aku sowan ke kediamannya karena ingin meminang anak gadisnya. Suaraku sempat saja hilang, nyaring tak terdengar. Mungkin karena aku sangat gugup, dan bibirku terasa berat untuk mengatakannya. Suaraku pertama tak terdengar betul oleh Mbah Jaka. Kuulangi perkataanku sekali lagi. Dengan menghirup nafas dalam-dalam, sampai-sampai terasa terisak di dada. Mungkin, karena terlalu tegangnya. Kutak bisa menatap matanya yang tajam. Aku selalu saja tertunduk.
Mbah Jaka berdiri mondar-mandir dan melihat sesaji yang berada di pintu depan. Dengan menghirup dupa yang wangi.
Memang di desa lereng, sangat menentang keras, pemuda datang untuk bertamu. Toh, yang hanya memiliki anak gadis saja. Itupun, ketika diperbolehkan anak gadisnya dilarang untuk menemui. Setiap anak gadis hanya boleh berada di kamar. Apabila ia mengangguk ketika seorang pemuda melamar, berarti ia siap untuk menikah.
Lantas itu juga, Rumbaniyah tidak bisa untuk menemaniku. Rumbaniyah hanya bisa mengintip di sela-sela jendela kamar, yang sangat persis menghadap ruang tamu. Tapi, perkataanya tak terdengar begitu jelas, karena tersebab hujan yang belum berhenti dari tadi malam.
Kedatanganku kerumahnya memang baru kali ini. Karena aku baru saja menyelesaikan kuliah di kota. Aku melihat Rumbaniyah ketika gerimis senja. Ia baru pulang dari kebun. Tujuanku pulang sebenarnya untuk menghilangkan kejenuhan kerja. Tapi tanpa sengaja bertemu dengannya.
"Dari mana sore begini. Boleh aku bertanya."
Ia malah lari. Aku bingung. Padahal, kau berteman sejak kecil. Semenjak ayahku merantau, kami berpisah. Kalau aku kesini hanya untuk berjumpa dengan kakek dan nenek. Sudah lama aku tak ke sini, karena mereka telah tiada
***
"Bagaimana Mbah?" takada jawaban sama sekali. Ia masih saja asyik memutar-mutarkan dupa. Kemudian, Ia melihat dengan seksama, jumlah bunga di sesaji itu. Dilihatnya dengan takdim dan khusyu. Dimondar mandirkan, sampai-sampai di julurkan bunga itu ke arah lampu yang menyala. Semenjak hujan, ruang tamunya agak sedikit gelap. Mungkin, karena awan hitamnya berada persis di atas kediamannya. Dihitungnya satu persatu bunga itu, dari perbatang sampai per kelopak bunganya. Aku hanya bisa melihatnya, sampai aku terduduk terfahum di depannya. Dalam hatiku, aku hanya bisa pasrah, mengadu kepada sang Maha Pencipta.
Aku hanya bisa memandang jam itu, tanpa ada maaf sedikitpun. Sungguh kedaan ini terlalu parah buatku, berbalik dari ujian kelulusan S1 sastra Indonesia. Dan aku masih saja melihatnya Pak Jaka dengan keadaan mata yang sudah remang-remang, dan sesekali melihat jam dinding.
"Kau boleh saja meminang anak gadis ku, tapi ada satu permintaan?"
"Jumlah bunga di sesaji ini kurang satu. Bunga ini bunga yang langka"
"Mungkin, aku bisa mencari pak, nama bunga itu apa pak?"
"Kau cari saja di sudut lereng pegunungan desa ini, Kantil biru"
"Baiklah pak"
***
Segera mungkin aku terbangun dari lamunanku, mungkin aku masih saja memikirkannya kemanakah besok aku akan berjalan mencari. Sontak saja aku terkejut, ketika tanganku berada persis dibawah gergaji yang akan menancap ke pohon. Seketika itu, aku langsung gerak reflek mengalihkan tanganku ke tubuhku.
Hari jumat. Aku harus mencari bunga kantil biru. Pagi-pagi sekali aku bergegas mencari, selama ini yang ada kantil putih, memang bunga ini sangat langka untuk ditemui. Tapi cintaku padanya melebihi segalanya. Perjalanan ku ditemani rintikan hujan, yang tadi malam tak kunjung reda. Diiringi pula, dupa yang sepanjang jalan tak henti-hentinya aku menghirup. Karenapintu tiap rumah, terdapat dupa. Begitulah yang diyakini oleh orang-orang di desa lereng ini. Aku sebenarnya tak mau melakukannya. Keterpaksaan karena cinta, maka kujalani saja semua syarat itu. Tapi setelah menikah, aku berniat untuk meninggalkan desa ini.
Kulanjutkan kaki ini untuk mencari bunga.Artinya, bunga ini adalah syarat untuk pernikahannya nanti, kalau semisal aku tak dapat menemukan bunga ini, retaklah hubunganku. Dengan kelakuanku, menemukan bunga kantil biru, aku akan selalu terkait dengan Rumbaniyah.
***
Tepat hari ini juga semua persediaan sudah disiapkan oleh warganya, atas suruhan Ayahku. Semua sudah tertata rapi. Tempat yang tampak coklat kini, dihias dengan sedemikian rupa. Ditatanya dengan potongan kayu pinus itu, hingga terbentuk tempat pernikahan. Memang Mbah Jaka masih menyimpan kayu pinus itu, untuk persediaan pernikahannya nanti. Dengan diselimuti kain berwarna hijau memanjang sampai melambai ke tanah, sehingga tertutuplah tempat ini. Dipasangkan lampu yang paling terang, yang terpasang di langit-langit, membentuk bayangan kantil biru. Kursi-kursi tamuberjejeran berhadapan dipisah menjadi dua sekat, dengan dibungkus kain warna hijau pula. Dan sudah ditata pula tempat duduk untuk calon mempelai laki-laki dan perempuan. Warnanya yang keemasan, terdapat ukiran kantil biru, tepat di kaki kursinya. Tempat ini membuat, mata memadang terlihat syahdu ketika menikmatinya.
Aku yang sudah berdandan dengan sangat cantik sekali, dibantu perias yang sudah dipercayai di desa lereng. Disapukanlah bedak di pipiku yang merah jambu kini, menjadi olesan yang sangat rata, tetapi tidak menghilangkan warna pipiku yang aslinya. Ditaruhnya, bulu mata, menjadikan mataku semakin menjadi tajam. Diikat rambutnya yang sangat lurus memanjang dengan kantil biru sampai membentuk gelungan. Kemudian ditaruh sanggulnya di gelungan itu. Setelah itu, aku mengenakan pakaian yang sangat anggunberwarna keemasan, dan itu pakaian yang sangat sakral untuk menikah, membelit di tubuhku. Dandanan terakhir di oleskannya lipstik tipis warna merah jambu pula. Kecemasanku pada Zulfikar tak kunjung reda, Zulfikar tak kelihatan batang hidungnya sekalipun. Padahal pakaiannya sudah dipersiapkan di kamarku. Setelah Zulfikar pergi meninggalkannya.
Tapi sekali lagi Zulfikar belum juga datang. Semua warga di desa itu sangat mengkhawatirkan keadaan ini, karena hari semakin petang dan hujan tak henti-hentinya. Termasuk aku ketar-ketir kesana kemari, mondar-mandir, keringat dinginpun menetes. Menambah dinginnya suasana.
Mbah Jaka dengan penampilannya yang selalu gagah dan bijaksana keluar dari pintu rumah. semua mata tertuju padanya, dengan sikap pemberani layaknya sedang memimpin desa. Dia keluar dengan membawa sesaji yang kurang satu kelopak kantil biru itu. Dan itu pertanda upacara pernikahannya akan segera dimulai. Ditaruhnya sesaji itu didepan tempat duduk putrinya.
Kemudian Mbah Jaka hanya mengambil dupa. Dengan menari-nari seorang pemangku adat, dikibas-kibaskan dupa itu ke udara, memutar-mutar di tengah-tengah mata saling memandang.
Memang upacara adat ini dilakukan terlebih dahulu. Untuk memanggil roh nenek moyang untuk menyaksikannya. Mereka percaya bahwa roh nenek moyang ikut mendoakan pernikahannya. Bahwa pernikahannya akan berujung sampai akhir hayat.
Dengan kelenggokan tubuh pemangku adat tersebut, suara kakinya pun terdengar terseok-seok. Mbah Jaka menari dengan penuh rasa khusyuk dan khidmat. Dilepaskan slendangnya satu persatu ke tanah. Untuk menyambut, bahwa sudah datang roh nenek moyang.
Aku yang pada waktu itu, sangat takjub melihat pertunjukan Ayahku. Dan masih saja dibumbuhi rasa cemas, karena tak kunjung datang kekasihku.
Hujanpun semakin deras saja, ditambah petir yang suaranya sangat keras sekali. Bergetar di telingaku. Semua warga menjadi was-was. Kalau-kalau tempat ini akan ambruk dan runtuh di telan hujan.
Tapi aku mencoba untuk menenangkan diri, memohon pada Sang Maha Pencipta, kalau keadaan akan baik-baik saja nantinya.
***
Aku masih saja mencari kantil biru. Dengan langkah sigap dan pemberani aku melanjutkan langkahnya. Ditanjaknya lereng gunung itu, sampai menemukan sungai. Dilewatinya sungai itu, dengan aku menyelam, untuk kesebrang. Kulitku yang sudah melapuk, dan keadaanku sudah compang-camping. Menambah kegelisahan hati, yang waktu semakin berdetik, menunjukkan akan saatnya waktu pernikahan. Dengan langkah tergopoh-gopoh aku belum juga menemukan bunga itu. Dibenakku mungkin kantil biru sudah tidak ada.
Tubuhku semakin memerah dan menggigil. Jalanannya semakin licin saja, karena di penuhi lumut, dan hujan yang tak kunjung reda.
Arahku semakin remang-remang, karena aku sudah merasa putus asa. Dan aku beristirahat sejenak, duduk di bongkahan kayu. Sambil membayangkan wajah Rumbaniyah yang mempunyai paras cantik bak bidadari datang dari langit tujuh. Ku menolehkan penglihatanku ke arah semak-semak belukar itu, akhirnya kulihat satu kelopak kantil biru. Seketika itu juga aku segera memetiknya. Dengan langsung tidak basa-basi, aku segera berlari menuju pernikahanku.
Dengan langkah pasti aku akan membawa bunga ini ke pangkuannya, dan mencium keningnya, mungkin ciuman ini akan terasa nikmat saat aku bersanding dengannya.
Aku bergegas, dengan membayangkan wajahnya, yang tidak sedikitpun hilang di benakku.
Akhirnya tepat petang menjelang, langkahku terhenti, oleh campur riuh keadaan. Semua warga mati, pak Jaka pun demikian. Sontak itu juga aku langsung mencari kekasihku. Aku tak menemukannya, aku seperti orang yang sedang melambung kebahagiaan, langsung jatuh saja seenaknya, tanpa ada kata maaf sedikitpun.

*Cerpen ini masuk dalam antologi (buku bersama) sebagai lomba cerpen terfavorit yang diselenggarakan oleh Sabana Pustaka.

Minggu, 28 Juli 2019

Cerpen : Gagal jadi Artis


Gagal jadi Artis
Oleh: Asrita Zahro

Bunga-bunganya selalu tunduk lewat angin, dia menjatuhkan kepasrahan, dari satu kelopak gugur akhirnya hilang dalam tangkai. Dan kupu-kupu hilang melihat tak ada santapan di pagi hari. Kuhayati dengan seksama, begitu syahdunya angin menghembuskan, dengan santai dia tak melihat wujud aslinya.

***

Pagi ini kulihat mbok masih saja mengunyah campuran kinang: jambe, kapur, gambir, sirih. Ini adalah kunyahan terakhir mbok Ijah. Sebelum habis simpanannya. Dikunyahnya sampai benar-benar berair berwarna merah. Bau yang sangat menusuk, karena baru saja aku bersalaman, kuciumkan tangannya yang sudah terlihat lapuk. Memang semenjak ditinggal anaknya, mbok Ijah hidup sebatang kara, dia hanya bisa pasrah mengadu kepada sang Khalik.

"Mbok dari tadi belum selesai juga menguyahnya, sudahlah mbok, anak mbok tidak bakalan pulang juga."

Sudah aku katakan perkataan itu berulang kali, tapi mbok Ijah tetap saja menguyah. Dan memandangku dengan tatapan yang sama. Tatapan yang agak mengkeruh warnanya, mungkin karena penglihatan sudah rabun, ataupun juga karena selalunya saja terkena debu daun kelapa.

Mbok Ijah sangat khusyuk menyayat daun kelapa, untuk diambil lidinya saja. Sambil dia pandangi layar tv berharap anaknya ada dalam acara tersebut. Anaknya dulu pergi merantau ke kota pamit berkeinginan untuk menjadi artis. Katanya ia ingin menjadi pemain sinetron memerankan tokoh utama. Alhasil mbok Ijah dengan susah payah menjual buah jambe yang ada di depan rumah. Buah jambe terkumpul lima puluh kilogram dan dijual dengan harga satu juta. Uang tersebut dibawakan semua pada anaknya.

***

Ini adalah pekerjaan keseharian mbok Ijah, hanya untuk menyambung hidup. Satu persatu dia sayat, sampai tertumpuk lidi banyak. Hanya pohon kelapa satu-satunya yang ada di depan rumah. Terkadang, karena sudah lelah, ia terkantuk, dan melenceng sayatan ke tangannya, sesekali dia lap menggunakan baju bekas. Sampai-sampai lapnya kini sudah berwarna merah pekat.

Aku hanya bisa meratapi kesendirian mbok Ijah. Aku mencoba untuk membantu menyayat, tapi tidak boleh juga. Dia ingin menyelesaikan pekerjaannya sendiri, katanya supaya anaknya bangga mbok Ijah bisa melakukan pekerjaan semua dengan tangan sendiri.

Sesekali dia bergumam.

"Anakku sudah dua tahun ini aku menonton tv, tak ada satupun wajahmu."

Oh sungguh malang benar, nasib mbok Ijah. Anaknya kini entah kemana. Mungkin tersesat tak tau arah. Atau mungkin jadi pemain film luar negeri. Sempat mbok Ijah curhat kepadaku, sebelum mbok Ijah jadi seorang penggumam kini. Satu hari kepergian anaknya mbok Ijah cerita kepadaku. Katanya anaknya ingin menjadi artis bollywod. Dia mengikuti casting di kota dengan membaca pamflet yang terpasang di tembok warung dekat rumahnya. Dan aku hanya mengangguk-angguk tanda terfahum. Anaknya baru lulusan SMA, dia menurutku tak tahu benar hidup di kota itu seperti apa. Aku yang hanya menjadi seorang babu di kota, sudah paham benar nasib di kota seperti apa ganasnya. Emmmmm, entahlah. Pikiranku tersentak bersama suara batuknya si mbok.

"uhuk… uhuk.."
"mbok cukuplah, istirahat."

Mbok selalunya saja menatapku dengan tatapan yang sama, dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Selalunya saja dia ganti-ganti channel tv miliknya. Seperti permainan gimbod.

"Sudahlah mbok, jangan memikirkan dia terus, liat wajah mbok yang sudah pucat."

***

Sepeninggal anaknya, seperti biasa aku yang selalunya saja untuk menjajakan dagangan sapu lidi. Memang aku yang harus bertanggungjawab merawat mbok. Ibuku menyuruhku tinggal bersamanya. Karena keadaan sangat memprihatinkan.

Kususuri kampung dengan sepeda butut milik mbok. Dagangan selalu saja terlahap habis, belum jauh aku mengayuhnya.

Aku berhenti disalah satu warung, untuk membeli minuman. Memang cuaca yang terik membuat kerongkonganku terasa kering. Kupelototin benda yang berbentuk persegi itu. Suaraku agak tersengal. Bulukudukku merinding.

"i-iiii-tuuuu anak mbok Ijah."

Kemudian terdengar suara menerobos, bagai anak panah yang melesat.

"Dia menjadi tukang sapu kolam renang. Masuk tv karena mengikuti Ajang Nasib."

Oh pantas saja mbok Ijah nggak pernah liat. Warung ini memiliki parabola. Semua channel tv bisa masuk oleh jaringannya. Seketika aku langsung ambil sepeda. Dan bergegas pergi.

Rabu, 21 Februari 2018

Kesendirian

Pada dasarnya manusia adalah masing-masing, entah apa yang aku bicarakan saat ini. Mungkin karena aku sedang mengalami kesendirianku pada waktu ini. Karena akhir-akhir ini yang kujumpai selama ini banyak yang mengandalkan egonya masing-masing, tak pengertian sama sekali. Hidupku ya hidupku, kau tak boleh menampik, kau tak usah ikut campur urusanku. Hello siapa sih, yang akan mencampuri urusanmu yang segudang itu. Aku hanya inginkan tolonglah sama-sama saling pengertian, kita ini hidup bersama.. toh tak selamnya aku merepotkan dirimu. Urusanmu ya urusanmu silahkan.. aku tak akan tanya hal itu kok. Tenang saja. Kau sudah paham kan ? kalau belum paham, segera tenangkan diri.. dan beranjaklan untuk bicara dengan diri sendiri, dan pahamilah dirimu kini. Tapi ketika kita menampik pernyataan itu, aku jadi ingat manusia adalah makhluk sosial yang sangat perlu bantuan orang lain. Manusia tidak dapat hidup sendiri. Tetapi, ketika kita sedang dalam situasi seperti itu, pastilah kita akan melupakan pernyataan tersebut. Dan segeralah aku beranjak pergi, menikmati kesendirianku kini.
 

Minggu, 26 November 2017

Cerpen_Rumah yang Bersalah_Asrita Zahro



Rumah yang Bersalah
Oleh: Asrita Zahro

          Kau harus tau benar dengan rapalan doa ini, agar kau tak salah tangkap dengan penyelewengan sana-sini. Katanya rapalan doanya sangat mengandung arti yang dalam, tapi tetap saja ada yang mengira ini hanya tiruan saja. Memang kebanyakan orang masih selalu saja menganggap ini hanya ikut-ikutan. Dan sampai sekarang masih dalam penguatan pembenaran.
Konon tradisi ini dulunya hanya pemujaan sesembahan terhadap roh nenek moyang, yang dikasih kemenyan agar tercium bau harum. Sambil mereka merapalkan doa yang diyakini. Namun para ulama zaman dulu tak mengambil pemujaan, sudah diselaraskan dengan pembacaan ayat al-Qur'an: tahlil dan doa.
Tapi sampai sekarang ini masih selalunya saja ada orang yang tak percaya bahkan meghiraukan ini katanya angin lalu, masih membekas tak ada penyelarasan. Turun temurun ya turun temurun. Katanya.
***
Ada warga di kampungnya yang masih percaya tradisi leluhurnya, satu hari kematiannya orang-orang ikut hanyut dalam tradisi ini. Namun, sampai menginjak tujuh hari kematiannya tak ada rapalan doa-doa yang menghampiri dan hidangan yang tersaji.
Orang-orang selalu mencibirnya dengan sangat kental, seakan kematiannya begitu salah. Dibicarakannya sambil berjalan di depan rumahnya, dengan menunjuk-nunjuk, seakan-akan rumah tua yang benar-benar bersalah. Rumah sepetak yang sudah reot, banyak lumut di temboknya yang terlihat batu bata ditumbuhi rumput ataupun hitam karena terkena kebulan asap bakaran daun kering. Atapnya yang terlihat warna langit. Kalau malam menjelang, dia menggigil tak ada selembar kain yang menutupi tubuhnya, yang ada hanya baju lusuh yang dia pakai. Tidurnya tak beralasan bantal, hanya sekedar untuk menyanggah lehernya.
Memang barang-barang yang ala kadarnya yang dulunya ada, untuk menebus obat istrinya. Namun sayang, semakin hari istrinya semakin tidak berdaya, dan  takdir harus bilang apa lagi untuk memelasinya, akhirnya ajal menjemputnya.
***
Tapi orang kampungnya selalu saja mencibirnya tak kunjung selesai. Pada waktu kematiannya, pada hari pertama Sutinah, orang-orang datang berbondong-bondong untuk merapalkan doa dan wujud belasungkawa, namun hari esoknya tak ada lagi kabar hanya sekedar untuk menengok Sarimin yang sendirian, dan merapalkan doa untuk istrinya.
Sarimin tidak bisa memberi kenyamanan ataupun hidangan yang harus disajikan. Dia hanya bisa menghela napas panjang, yang kian napasnya tersendat karena harus membersihkan daun kering yang selalu berguguran di depan gubugnya. Dia punguti satu-satu daunnya. Lalu sudah terkumpul semua, dia bakar sampai kukusnya mengepul: putih pekat. Ini dilakukan hampir ketika sore menjelang. Memang semenjak kepergian istrinya, daun yang lebat cepat sekali mengering, tak ada air dari langit.
***
Tak ada suguhan: daging ayam kampung, kerupuk merah, tempe kering, sayur mi, yang ada hanya nasi. Itupun dia hanya memiliki persediaan beras satu kandi, yang dia dapat dari sisa uang menebus obat istrinya. Makanan itu adalah bentuk tradisi turun temurun di kampungnya, tapi mereka tak tahu benar, arti sebenarnya. Yang mereka tahu hanya dia datang hanya sebatas merapalkan doa dan selalunya saja memakan hidangan yang tersaji. Untuk makanan kesehariannya pun sangat sulit, dia tidak bisa menyuguhi dengan aturan yang sudah turun temurun. Orang-orang terlalu menyempitkan dirinya, tak ada bantuan sedikit pun.
***
Di halamannya Sarimin masih selalunya saja memunguti daun, Sarimin yang sudah tua renta ini harus menanggung beban sendirian. Sarimin seumur hidupnya menikah dengan Sutinah tidak dikasih anak oleh sang Maha Khalik. Dia hanya bisa pasrah menerima penderitaannya sampai ditinggal istrinya kini.
"Hai kau orang tua, mana makanan yang harus kau hidangkan. Kau tak ingin istrimu disiksa menangis kesakitan."
Cibiran itu selalunya saja terdengar hampir setiap berjalan dihadapannya, sampai dia hafal benar perkataannya. Rasa sakit seolah-olah sudah menghampirinya setiap saat, tak ada sedikit nafas kebebasan. Tubuhnya yang kian kurus ini harus menanggung penderitaan.
Sungguh keadaannya harus begini, dia tetap saja memungut daun-daun yang berterbangan berserakan kemana-mana.
***
Hanya ruang kosong yang masih dibentangkan karpet warna merah tua. Kursi-kursi tua disingkirkan ke belakang rumah. Tak ada kenangan yang terpasang, hanya tembok yang sudah lusuh mengering berdebu.
Di gubug ini dia hanya merapalkan doa sendirian, dia sangat khusyuk sekali dan begitu khidmat membacakan ayatnya yang begitu lirih, sampai-sampai tak mau ada makhluk sekecil pun tahu. Dia tak ingin mengira semesta tahu, dia sangat malu bila semesta tahu, dia tak bisa suguhkan sedikit pun imbalan untuk ucapan terimakasih.
Ayat demi ayat dia baca: memohon diterbangkan kepada istrinya, agar dia tenang di alamnya. Mungkin dia sangat mengerti benar penderitaannya, dia sudah tak mau mengharapkan doanya dibacakan orang banyak.

Cerpen : Desa yang terkutuk

Desa yang terkutuk Cerpen oleh: Asrita Zahro Mungkin, karena terletak di lereng gunung. Udara setiap pagi hari selalu mendinginkan. ...